PURPLE EYES REVIEW

| Sabtu, 07 Januari 2017

PURPLE EYES


Penulis     : Prisca Primasari
Penyunting  : Cerberus 404
Proofreader : Seplia
Design cover: Cynthia Yanetha
Cetakan     : 1, Mei 2016
ISBN        : 978-602-74322-0-8


Blurb

Karena terkadang tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Sinopsis

Siapa yang nggak kenal Hades, Si Dewa Kematian yang tak kenal ampun bagi orang berdosa terutama seorang pembunuh. Hades memiliki seorang asisten bernama Lyre. Entah mengapa belakangan ini banyak sekali orang memilih untuk mati. Apalagi mereka tewas dengan dibunuh dan diambil levernya. Hades mendapatkan perintah turun ke bumi untuk menangani kasus tersebut sebelum terjatuh lebih banyak korban lagi. Lyre kali ini mempunyai peran penting dalam penyelesaian kasus pembunuhan keji tersebut.

Ivarr Amundsen, seorang pemuda tampan dengan rambut pirang keperakan dan mata biru tuanya yang nyaris ungu. Ivarr juga seorang penerus Amundsen Corp. Pemuda tersebut tinggal di Trondheim, Norwegia. Di sinilah Lyre bertanya-tanya apa sebenarnya rencana Hades terhadap pemuda berhati dingin yang memilih tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin. Hades hanya butuh seorang Ivarr Amundsen untuk mengakhiri nyawa pembunuh keji itu dengan cara manusia. Hades, Herr Halstein (nama di dunia manusia) dan Lyre, Solveig (nama di dunia manusia) mengunjungi rumah Ivarr.

Tampaknya misi kali ini tidak berjalan sesuai keinginan Hades karena pada saat itu Solveig jatuh cinta pada patung lilin itu. Kendalanya jelas sekali, pemuda itu masih hidup, dan gadis itu sudah mati. Herr Halstein jadi uring-uringan karena kasusnya tidak akan selesai. Akhirnya, Herr Halstein meminjam sebuah buku puisi milik Solveig yang di dalamnya terdapat sebuah puisi berjudul "Purple Eyes" dan pengungkapan Dagrunn Morten, si pembunuh keji secara tidak langsung pada Ivarr.


"Terkadang ada yang perlu dikorbankan, demi tujuan yang lebih baik." (Herr Halstein - hal. 113)


Udah pernah denger nggak tentang Hades, Si Dewa Kematian? Udah dong, pastinya. Tapi, apa kalian pernah denger kalau Hades memiliki seorang asisten cantik bernama Lyre? Belum tahu kan? Kak Prisca memperkenalkan sesosok Lyre sebagai seorang asisten yang sangat patuh pada majikannya. Karena alasan itu juga Hades memilih Lyre sebagai asistennya. Sudah bertahun-tahun Hades tidak mendapatkan tugas yang menarik. Siapa sangka setelah kedatangan Nikolai Amundsen, Hades malah harus turun ke bumi bersama Lyre.

Awalnya Lyre tidak suka dan menggerutu. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya. Tapi apa yang terjadi antara Lyre dan Ivarr malah meninggalkan jejak kisah manis dan membuat Hades harus turun tangan sendiri hingga Lyre ingin tinggal di bumi saja. Mustahil bagi Lyre.

Siapa yang bisa menebak isi hati manusia? Tiba-tiba cinta datang begitu saja.

      
      (Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati.) - hal. 123


**********
Aku sangat berterimakasih pada Indah karena telah mengabulkan salah satu dari wishlistku dalam acara tukar kado NA (Novel Addict part 2). Novel karya kak Prisca Primasari dari awal launching sudah langsung mencuri hatiku. Dari beberapa review yang aku baca novel kak Prisca selalu memberikan sentuhan sihir tersendiri. Tidak hanya kepiawaian kak Prisca dalam pengolahan alur cerita yang bikin pembaca penasaran, kecermatan dan penyampaian setting dalam cerita dibikin sedetail mungkin. Riset yang dilakukan kak Prisca memberikan nilai tambah pada setiap karyanya dan pengetahuan juga kepada pembaca. Salut deh sama kak Prisca.

Genre dark romance ditambah dengan fantasy merupakan perpaduan yang cukup sulit menurutku. Tapi kak Prisca mengeksekusinya dengan baik. Walaupun singkat tapi tidak terkesan terburu-buru. 

Covernya sungguh indah tapi ada kesedihan mendalam tersirat di dalamnya.

Kak Prisca, aku terkesan membaca novel kakak. Kakak berhasil membuatku memahami apa arti harapan yang sesungguhnya. Tidak hanya di kehidupan saat ini saja, di masa yang akan datang kita harus terus hidup dengan harapan. Harapanlah yang membuat seseorang akan terus kuat dan selalu berjuang.

Kak Prisca yang manissss, aku kasih Hello Kitty 4 ya.


 



I hope you like that.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2010 MY BOOK NOTE Blogger Template by Dzignine